Namaku Roy, Tapi Panggil Saja Aku Kanwa
Namaku Roy, Tapi Panggil Saja Aku Kanwa
Banyak orang bertanya padaku tentang identitasku. Siapa aku? Dari mana asal-usulku? Bahkan, tak jarang yang penasaran soal urusan hatiku—tentang siapa yang kucintai, atau siapa yang mungkin sedang kucoba lupakan.
Perkenalkan, namaku Roy Hasanuddin. Tapi tak perlu serumit itu—cukup panggil aku Kanwa. Ada kisah di balik nama itu, seperti halnya setiap manusia menyimpan kisah di balik luka dan tawa. Nama “Kanwa” adalah nama pena yang kupilih sendiri, lahir dari pergulatan batin dan perjalanan yang berliku. Sebelumnya, dunia maya mengenalku dengan nama “Pecok”—sebutan yang muncul begitu saja, setelah aku mengganti ID Twitter-ku menjadi @udinpecok. Sebuah nama yang kala itu terasa akrab, lucu, dan ringan. Tapi seiring waktu, aku merasa perlu menyematkan nama yang lebih dalam maknanya. Maka lahirlah @roykanwa, sebuah nama baru untuk lembaran baru.
Liku-liku hidupku bukan cerita yang datar. Hidupku ibarat pelompat; tidak pernah benar-benar diam di satu tempat. Aku pernah melompati pagar sekolah demi menantang kebosanan, melompati tali demi tawa kecil bersama teman, melompati cinta seorang sahabat yang diam-diam mencintaiku, dan bahkan, melompati jembatan Sungai Siak—bukan karena nekat, tapi karena hidup memang tak pernah berhenti menantang.
Aku lahir di kota kecil bernama Sragen, pada tanggal 10 Oktober 1993. Putra kedua dari pasangan sederhana, Bapak Choeri Suparman dan Ibu Wiji Lestari. Kami tiga bersaudara, dan aku berada di tengah—tempat yang tak pernah sepi, tapi juga sering terlupakan. Sekarang, aku tinggal di Jl. Dahlia Ujung Nomor 56, Pekanbaru—kota yang menampung semua luka, harapan, dan pertumbuhan.
Masa kecilku bukan dongeng manis. Aku lahir di keluarga serba pas-pasan, tapi kami tak pernah merasa benar-benar kekurangan. Kami tidak punya banyak, tapi cukup untuk membuatku belajar bersyukur. Kami pindah ke Pekanbaru untuk mengejar kehidupan yang lebih baik. Di sanalah cerita panjangku benar-benar dimulai.
Pendidikan: Jejak Kecil Menuju Mimpi Besar
Aku menapaki masa kecilku di TK Al-Munawwaroh—tempat bermain, berlari, dan belajar menyebut nama teman-teman kecil yang kini hanya samar di ingatan: Dede, Rida, Tomy? Mungkin mereka tak ingat aku, tapi aku masih menyimpan tawa mereka dalam sudut kenangan.
Kemudian aku melanjutkan ke SDN 025 Sukajadi, yang kini berganti nama menjadi SDN 089 Pekanbaru. Di sana, aku belajar banyak hal: membaca, menulis, dan berteman. Nama-nama seperti Dendi, Riski, Riji, Fenny, Harpy, Reza, Mila, dan Denis adalah bagian dari masa kecilku. Wajah mereka masih jelas di ingatan, meski nama kadang mengabur.
SMP menjadi titik balik. Aku diterima di SMPN 1 Pekanbaru, dan ditawari program akselerasi. Aku tak tahu dari mana keberanian itu muncul, karena kondisi ekonomi keluargaku saat itu belum bisa dikatakan cukup. Tapi aku nekat. Aku memilih jalur sulit, jalur cepat. Dua tahun penuh tekanan, tapi juga penuh inspirasi. Aku mendapat banyak teman, banyak pengalaman, dan bahkan beasiswa yang menyelamatkan langkahku.
Setelah lulus, aku tak langsung diam. Aku ingin menjajal tempat baru, tantangan baru. Aku memilih SMA Negeri 1 Pekanbaru, dan kembali mengambil program percepatan. Aku menyelesaikan SMA lebih cepat dari teman-teman seusiaku. Bukan karena aku lebih pintar, tapi karena aku tahu waktu tidak pernah menunggu.
Kini aku adalah mahasiswa di Universitas Riau, jurusan Manajemen. Saat tulisan ini kubuat, aku berada di semester 6. Mungkin saat kau membaca ini, aku sudah berada di semester berbeda—atau mungkin sudah lulus. Tapi satu yang pasti: aku masih berjalan. Aku belum berhenti.
Tentang Aku: Bukan Sekadar Nama
Aku mencintai buku, mungkin karena buku tak pernah bertanya siapa aku. Buku hanya diam, dan membiarkanku menyelami dunia baru tanpa syarat. Musik juga sahabat terbaikku—terutama saat malam mulai terasa terlalu panjang. Aku menyukai Letto, bukan hanya karena nadanya, tapi karena lirik-liriknya mengalir seperti do’a yang tenang. Lagu-lagu mereka mengajarkan bahwa hidup boleh saja rumit, tapi harapan harus selalu ada.
Cita-citaku? Aku ingin membahagiakan kedua orangtuaku. Aku ingin menjadi kebanggaan bagi keluarga, bangsa, agama, dan untuk seseorang yang nantinya akan menggenggam tanganku di masa depan. Aku ingin menjadi pribadi yang berguna—bukan karena ingin dikenal, tapi karena aku ingin meninggalkan jejak yang bisa dikenang dengan senyum, bukan air mata.
---
Mungkin kamu membaca tulisan ini dari suatu situs atau halaman yang tersebar di dunia maya. Jangan khawatir, karena aku yang menulis ini sendiri—dengan jujur, tanpa topeng. Aku akan terus memperbarui cerita hidupku, karena hidupku belum selesai. Masih banyak bab yang belum kutulis, masih banyak luka yang ingin kusembuhkan, dan mimpi yang belum sempat kugapai.
Aku adalah Kanwa. Terimakasih telah membaca. Semoga kita terus bertumbuh bersama, dan tetap menjadi saudara dalam dunia nyata maupun maya.
Comments
Post a Comment