Bab Lanjutan: Luka Kecil dan Lagu Kenangan

Masa kecil memang aneh ya—kadang begitu samar, kadang begitu tajam. Ada hal-hal yang begitu jelas tergambar, seperti potongan film yang kita ulang-ulang, sementara yang lain kabur, seperti kabut pagi yang enggan pergi.

Katanya, masa kecil adalah masa paling indah. Isinya? Main, main, dan... main lagi. Dunia saat itu sempit, tapi terasa luas. Permainannya sederhana, tapi bahagianya luar biasa. Kita belum kenal kata "cemas", belum mengerti "khawatir", belum tahu artinya "rasa bersalah yang dalam". Yang kita tahu hanyalah tawa, tangis karena mainan rusak, atau karena rebutan jajanan.

Tapi yang lucu, kita gak inget saat belajar ngomong. Kita gak inget gimana caranya kita belajar berdiri. Kita juga gak inget kapan pertama kali makan pisang atau meringis karena mangga muda yang asem. Semua itu kayak fragmen yang sengaja Tuhan simpan rapat, diganti dengan kenangan-kenangan lain yang muncul setelah kita mulai “sadar” bahwa hidup ini bukan cuma tentang main petak umpet.

Aku sendiri mulai punya ingatan kuat sejak masa kecilku yang penuh luka... secara harfiah.

Satu ingatan yang paling tajam—dan mungkin bakal terus nempel sampai tua—adalah saat aku dijemput dari tempat penitipan anak. Waktu itu aku masih kecil banget, belum sekolah. Aku dibonceng naik sepeda, duduk manis di belakang. Tapi karena aku anaknya lasak, kaki kiriku tiba-tiba nyelip masuk ke jeruji roda. Sakitnya luar biasa. Rasanya kayak digigit monster. Kaki belakangku sobek lebar, menganga seperti mulut goa. Aku menangis, tentu saja. Tapi, herannya, aku juga tetap berlagak sok kuat. Entah kenapa, anak kecil memang suka begitu—menangis tapi gengsi, sakit tapi tetap pura-pura biasa.

Aku langsung dibawa ke puskesmas. Di sana, mereka menjahit lukaku. Enam atau tujuh jahitan, aku lupa pastinya. Tapi aku masih ingat suara jarumnya, dinginnya ruang itu, dan mata ibuku yang merah tapi tetap tegar.

Dan di situlah, aku sadar… kadang kenangan itu tertanam bukan karena bahagia, tapi justru karena luka. Luka kecil, tapi membekas dalam.

Saat TK, semuanya jadi lebih cerah. Aku masih bisa dengar nyanyian itu berdengung di kepalaku sampai hari ini:
"Marilah kita berbaris... satu dua, satu dua, duaaa..."
Dan lagu perpisahan yang sendunya masih menusuk:
"Sayonara... sayonara..."
Ada juga lagu makan siang yang membuat nasi terasa lebih nikmat:
"Banyak-banyak makan, jangan ada sisa..."
Lucu ya, suara-suara itu bisa bertahan puluhan tahun di kepala. Seolah-olah ingatan kita justru menyimpan yang sederhana, bukan yang spektakuler.

Yang paling ironis adalah ini:
Meski aku bisa ingat detail kejadian bertahun-tahun lalu, aku sering banget lupa kejadian kemarin. Bahkan bisa jadi aku lupa password email, lupa naruh kunci, ketinggalan dompet, atau salah masuk jadwal. Kadang aku mikir, jangan-jangan otakku penuh dengan kenangan masa kecil, sampai gak ada ruang buat simpan kejadian hari ini. Hehehe.

Mungkin memang benar—memori paling kuat terbentuk saat kita mulai sekolah. Saat kita mulai mengenal dunia luar dan bertemu dengan teman-teman seumuran yang membuat hari-hari menjadi penuh cerita. Itulah saat pertama kali kita mulai menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri. Ada sahabat, ada guru, ada tawa, dan ada kehilangan kecil yang mengajarkan kita pelan-pelan menjadi manusia.

Dan meski sekarang kita berjalan lebih jauh, mengurus lebih banyak hal, menghadapi tekanan yang tak pernah kita duga waktu kecil... rasanya, di dalam diri ini masih ada versi kecil dari kita yang tetap ingin bermain, tertawa, dan menyanyikan lagu sebelum makan.

Jadi, kalau suatu hari aku lupa segalanya, semoga aku masih bisa ingat lagu baris itu.

Dan semoga, kamu pun selalu bisa mengingat siapa dirimu dulu—saat semuanya masih polos, belum terluka, dan dunia terasa seperti taman bermain tak bertepi.

Comments

Popular posts from this blog

Namaku Roy, Tapi Panggil Saja Aku Kanwa