Bab Lanjutan: Luka Kecil dan Lagu Kenangan
Masa kecil memang aneh ya—kadang begitu samar, kadang begitu tajam. Ada hal-hal yang begitu jelas tergambar, seperti potongan film yang kita ulang-ulang, sementara yang lain kabur, seperti kabut pagi yang enggan pergi. Katanya, masa kecil adalah masa paling indah. Isinya? Main, main, dan... main lagi. Dunia saat itu sempit, tapi terasa luas. Permainannya sederhana, tapi bahagianya luar biasa. Kita belum kenal kata "cemas", belum mengerti "khawatir", belum tahu artinya "rasa bersalah yang dalam". Yang kita tahu hanyalah tawa, tangis karena mainan rusak, atau karena rebutan jajanan. Tapi yang lucu, kita gak inget saat belajar ngomong. Kita gak inget gimana caranya kita belajar berdiri. Kita juga gak inget kapan pertama kali makan pisang atau meringis karena mangga muda yang asem. Semua itu kayak fragmen yang sengaja Tuhan simpan rapat, diganti dengan kenangan-kenangan lain yang muncul setelah kita mulai “sadar” bahwa hidup ini bukan cuma tentang ...